Translate

Sabtu, 26 September 2015

KARAKTER ANTIKRISTUS PART 2

Melihat kepausan sekarang ini, jelas terlihat hirarki Romawi mengalir didalamnya. Pakaian, arsitektur, undang-undang, struktur kepercayaan, kesenian, gaya hidup, bahasa latin, dll. Bahkan Pope Pius IX pernah menyatakan seperti ini … Pope (Paus) Pius IX, in his “Discorsi” (I., p. 253), said: “The Caesar who now addresses you, and to whom alone are obedience and fidelity due.” – “Kaisar yang berbicara kepadamu, dan kepada dia saja kesetiaan dan kepatuhan.”


Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yng terakhir. (1 Yohanes 2:18).

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. (1 Yohanes 2:22).

dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (1 Yohanes 4:3).
Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. (2 Yohanes 1:7).


Antikristus
Dalam teologi Kristen, Antikristus adalah pemimpin yang dinubuatkan Alkitab yang akan menjadi musuh Kristus, yang akan menyesatkan banyak orang.


Terminologi
Kata “antikristus” berasal dari bahasa asli Yunani Koine “ἀντίχριστος” antikristos. Dimana kata tersebut terdiri dari dua akar kata αντί + Χριστός (anti + Kristos). “αντί” (anti) berarti mengganti, melawan atau mengambil tempat orang lain, dan “Χριστός” (Kristos) berarti Kristus, yang dalam bahasa Yunani sama dengan “Mesias” yang berarti “yang diurapi”, dan mengacu kepada Yesus dari Nazaret dalam teologi Kristen.


Jadi antikristus berarti melawan, mengganti, atau mengambil tempat Kristus. Bisa juga berarti Kristus palsu atau Kristus gadungan.

Didalam dunia ini cuma ada dua kekuatan yaitu Kekuatan Kerajaan Sorga (Yesus Kristus) dan Kekuatan Kerajaan Setan (dibawah kendali Lucifer). Siapapun atau ajaran apapun yang mencoba mendiskreditkan Alkitab dan-atau tidak sepaham dengan ajaran Alkitab dan-atau mencampurkan pengajaran Alkitab dengan pengajaran Paganisme secara sadar atau tidak sadar adalah pengikut Lucifer, atau penyembah Lucifer. Pengikut / Penyembah Lucifer bisa terang-terangan atau terselubung [dicoba ditutup-tutupi].


In 538 A.D., Pada tahun ini, Gereja Roma Katolik mendapatkan kekuasaan didalam bidang sipil dan keagamaan ketika Kaisar Katolik Justinian membuat suatu keputusan (semacam Dekrit) yang menjadikan Paus sebagai kepala semua gereja.


In 1798 A.D., Pada tahun ini pasukan Napoleon memasuki Roma dan menangkap Paus, mengakhiri kekuasaan Paus.

Pada tahun-tahun terbentuknya Amerika Serikat ini erat kaitannya dengan terbentuknya Illuminati. Akan dibahas di bagian lain.
Two Beasts Become Friends (Wahyu 13)
first-beast-second-beast-smaller
timeline-smaller
Kekuasaan Vatikan kuat mencengkeram Amerika Serikat dan memang dirancang semenjak Amerika dibentuk.
172cameagle172NewJesuitSeal
Logo diatas adalah Logo Amerika Serikat dan Logo Universitas Jesuit (Universitas Katolik pertama di Amerika Serikat bentukan Jesuit) Georgetown University.
298EganDolan
Vatican mengendalikan kedua sisi partai Amerika Serikat, baik partai Demokrat atau partai Republik. Sumber : grand design exposed

WASHINGTON - APRIL 15: The United States flag and the flag of the Vatican fly side-by-side along South Capitol Street ahead of the visit by Pope Benedict XVI April 15, 2008 in Washington, DC. About 300 sets of U.S., Vatican and District of Columbia flags were hung througout the city ahead of the papal visit. (Photo by Chip Somodevilla/Getty Images)
WASHINGTON – APRIL 15: The United States flag and the flag of the Vatican fly side-by-side along South Capitol Street ahead of the visit by Pope Benedict XVI April 15, 2008 in Washington, DC. About 300 sets of U.S., Vatican and District of Columbia flags were hung througout the city ahead of the papal visit. (Photo by Chip Somodevilla/Getty Images)

p07ph
Amerika Serikat yang pada awalnya menolak kekuasaan Katolik sekarang sudah dibawah kendali Vatican.
St. Paul's Cathedral from Millenium Bridge, Ludgate Hill, London, England, UK
Perhatikan gambar Gedung Putih di Washington D.C. dan kantor pusat Gereja Katolik Roma – di Vatican City serta kantor Gereja Katolik Roma di Inggris (London) – sangat Identik. Struktur / bentuk gedung seperti itu merupakan struktur / bentuk bangunan masonik.
Antichrist receives it’s seat and authority from Rome – Antikristus mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dari Kekaisaran Paganisme Romawi
Karakter antikristus bagian 2 : Antikristus mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dari kekaisaran paganisme Romawi.

Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?” (Wahyu 13:4).


Siapa naga ini dalam nubuatan? Menurut Kitab Wahyu 12: 9 naga tersebut adalah setan. Dan seperti yang kita tahu, seringkali setan tidak muncul dalam bentuk aslinya dihadapan manusia. Jadi dia harus memiliki orang-orang untuk melakukan kehendaknya. Pada saat ini naga menyerang iman Kristen, itulah Kekaisaran Pagan Romawi yang telah memilih untuk tidak menyukai keKristenan. Ini bukan sesuatu yang diperlukan untuk meyakinkan banyak orang, ini adalah fakta yang terbuka mengenai catatan bersejarah. Fakta adalah, Injil menggambarkan definisi identitas sebenarnya dari naga itu sampai saat ini.

Kenyataan bahwa naga itu memberi kekuasaan kepada antikristus :

Pemerintah romawi yang mencari dan membunuh bayi laki-laki di jaman Yesus.

Gubernur Romawi yang mengutuk Yesus

Prajurit Romawi yang mencambuk Yesus.

Sekelompok prajurit romawi yang memukul dan mengejek Yesus.

Pelaksana penyaliban adalah orang romawi.

Tentara resmi romawi yang menyegel makan Yesus.

Tentara khusus romawi yang menjaga makam Yesus.

Gubernur romawi yang menempatkan semua pengikut Yesus dalam pengasingan.

Koloseum romawi adalah tempat orang kristen dimakan singa.
dan lain-lain

Paganisme Romawi merupakan pusat kekafiran dan menjelma menjadi Vatican. Kekaisaran Romawi merupakan calon kuat sebagai setan yang memberi kedudukan dan kekuasaan kepada Vatican [sang masterpiece]. Melihat kepausan sekarang ini, jelas terlihat hirarki Romawi mengalir didalamnya. Pakaian, arsitektur, undang-undang, stuktur kepercayaan, kesenian, gaya hidup, bahasa latin, dll. Bahkan Pope Pius IX pernah menyatakan seperti ini …


Pope (Paus) Pius IX, in his “Discorsi” (I., p. 253), said: “The Caesar who now addresses you, and to whom alone are obedience and fidelity due.” – “Kaisar yang berbicara kepadamu, dan kepada dia saja kesetiaan dan kepatuhan.”
Hal ini menjadi satu-satunya hal yang disukai tentang para pemimpin Katolik Roma. Mereka begitu dibutakan oleh kebencian mereka terhadap kebenaran dan bahwa mereka benar-benar membuat pernyataan mereka sendiri sehingga tidak sadar, dalam hal ini memungkinkan orang-orang mengekspos mereka. Petunjuk mereka berikan sendiri melalui ucapan mereka sebagai antichrist / antikristus.


Speaking of the time, about 500 A.D., when the Roman Empire was crumbling to pieces: “No, the [Catholic] Church will not descend into the tomb. It will survive the Empire . . . At length a second empire will arise, and of this empire the Pope will be the master–more then this, he will be the master of Europe. He will dictate his orders to kings who will obey them”–Andrea Lagarde, The Latin Church in the Middle Ages, 1915, p. vi. —- “Tidak, [Katolik] Gereja tidak masuk kedalam kubur. Gereja Katolik mempertahankan kekaisaran. Akhirnya kekaisaran [kerajaan] kedua akan muncul , dan dari kerajaan ini Paus akan menjadi penguasa [master] – lebih ini, ia akan menjadi penguasa Eropa. Dia akan menentukan perintah-perintahnya kepada raja-raja untuk mematuhinya.”


Pernyataan ini ditulis pada tahun 1915 adalah berani dan akurat yang menunjukkan keinginan orang-orang jahat. Penulis itu menyatakan, “ia akan menjadi penguasa Eropa ..” Dan hari ini, ini adalah fakta yang terbuka dan jelas! Segera kerajaan ini [Roma] akan / telah menyebar ke seluruh dunia.
Banyak yang percaya bahwa paus adalah tuhan di bumi ! berikut adalah contoh pernyataan seorang paus (Paus Pius X) = “Paus bukan hanya wakil Kristus, paus adalah Yesus Kristus itu sendiri, dibawah kerudung daging. Apakah paus yang berbicara ? Yesus Kristus yang mengatakan ini, oleh karena itu, ketika seseorang berbicara mengenai paus, tidak perlu menyelidiki, hanya patuh saja.” Evangelical Christendom – Jan 1, 1895, halaman 15. Paus Pius X telah dijadikan suci [santo] oleh Gereja Katolik Roma. Hujatan kepada Yahuwah (Tuhan Yesus Kristus) tidak menggugurkan seorang paus untuk menjadi “santo / orang suci” di Gereja Katolik Roma. Ini adalah salah satu kenyataan dari Tanduk Kecil yang mempunyai mulut yang menyombong dalam nubuatan Kitab Daniel.


Pernyataan diatas juga adalah salah satu contoh dari kebenaran :
Wahyu 13:5 – Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya.


Daniel 7:25 – Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. Vatikan juga mengubah hukum Sabbat dan hukum kedua dari 10 perintah Allah mengenai patung.


Kaisar Justinian memberikan kunci dari Roma ke Paus ketika ia memutuskan bahwa seorang Paus harus menguasai semua gereja-gereja Kristen bumi pada tahun AD 538, serta masyarakat dunia. Visi Daniel, dan Wahyu mengenai wanita [pelacur besar] sang penunggang binatang adalah benar.


Pontifex Maximus atau Pontiff (Gelar Kaisar diturunkan kepada para Paus, meskipun mendapatkan pertentangan intern didalam Vatican sendiri). Orang pertama di Roma yang menggunakan titel Pontifex Maximus adalah Julius Caesar pada tahun 63 SM.

The Meaning and Origin of “Pontifex Maximus” – Arti dan asal istilah “Pontifex Maximus”
THE POPES ARE CAESARS – Paus adalah Kaisar
Pontifex Maximus, the Chief Priest in Rome – Pontifex Maximus, imam utama di Vatican – Roma.
Ia menjadi Imam Agung dari agama yang misterius di Roma. Pemakaian titel oleh kaisar-kaisar Roma (termasuk Constantine) berlangsung sampai tahun 376. Pada tahun itu Gratian, karena alasan Kekristenan, menolak pemakaian titel ini, karena menganggapnya sebagai suatu hujatan. Tetapi pada saat itu juga Uskup Roma sudah memiliki otoritas di bidang politik, sehingga pada tahun 378 Uskup Roma, Demasus, terpilih menjadi Pontifex Maximus kembali. Karena Roma merupakan kota terpenting di dunia, beberapa orang Kristen mulai memandang Uskup Roma sebagai uskup dari segala uskup dan sebagai kepala gereja. Jadi orang ini dipandang sebagai kepala baik oleh golongan Kristen maupun kelompok orang kafir. Akhirnya lahirlah Gereja Roma Katolik dibawah pimpinan Imam Agung yaitu Paus. Titel Pontifex Maximus dipajang dimana-mana di Vatikan, yaitu di pintu masuk gereja St. Petrus, diatas patung Petrus, di dalam kubah, diatas Pintu Tahun Suci, dsb. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi kepala gereja dan sekaligus kepala dari misteri kekafiran (atau Pontifex Maximus)? Untuk itu para pemimpin gereja berupaya menemukan adanya persamaan antara agama Kristen dan agama kafir. Yang penting bagi mereka bisa memperoleh kekuasaan politik; kebenaran adalah hal kedua.
A_Francis_vat_13d
Dalam sebuah pencetakan perangko disebutkan bahwa Paus Francis adalah Pontifex Maximus. Sumber : manresa-sj – Lihat gambar diatas.
pontifex_maximusConstantinePope
12867_x_33059a
12988_300-687-1plus2-papst
images
Kata “Pontiff” dari “Supreme Pontiff” atau Pontifex Maximus berasal dari dua kata, yaitu Pons =jembatan, dan Facio=membuat/make. Pontifex Maximus artinya pembuat jembatan. Para imam agung dianggap sebagai jembatan atau perantara antara kehidupan kini dan akan datang. Busana yang mahal yang dikenakan para paus tidak berasal dari Kekristenan, tetapi dari kaisar-kaisar Roma. Mahkota yang dipakai adalah serupa dengan yang dikenakan dewa-dewa Asyria dan Dagon, dewa ikan.
vatican138_01
Dagon merupakan penyelamat dari agama Babilonia. Namanya berasal dari kata dag, artinya ikan. Penyembahan kepada Dagon dilakukan oleh bangsa Filistin (Hak. 16:21-30; 1Sam 5:5-6). Layared dalam bukunya “Babilon and Niniveh” menerangkan bahwa bentuk kepala ikan menjadi mitre, topi kebesaran yang dipakai paus, sedangkan bentuk tubuh ikan menjadi jubahnya. Dalam perkembangan selanjutnya hanya mitre yang dipakai. H.A. Ironside mengatakan bahwa Paus adalah pengganti imam agung dari misteri Babilonia dan pembantu dewa ikan, Dagon. Untuk itu dia mengenakan sebentuk cincin. Ini lalu dikaitkan dengan pekerjaan Petrus sebagai nelayan dan tak pernah mengenakan cincin.
Siapakah Vigilius ? Apakah dia seorang Kristen ?
Sepuluh kerajaan yang terbentuk setelah Roma runtuh menjadi berantakan dan tercerai berai tidak bersatu, Seorang kaisar yang bernama Justinian sangat khawatir tentang hal ini. Dia memiliki seorang Jendral yang bernama Belisarius yang berada dalam kekuasaanya. Dia dan Jenderal Belisarius membuat suatu rencana. Mereka memutuskan bahwa jika mereka bisa masuk ke kota Roma mereka akan mengusir uskup Roma sehingga bisa melaksanakan pengambilalihan yang akan memungkinkan terbentuknya sistem baru yang dinamakan “ROMAN Katolik”. Mereka membutuhkan sistem ini karena mereka merasa mereka tidak memiliki kekuasaan politik yang lebih kuat untuk mengontrol banyak orang. Jadi mereka merancang suatu rencana yang akan memberikan kepada mereka kekuatan keagamaan serta kekuatan politik.
Suatu hari saat Belisarius sedang berperang, uskup Roma menyatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan pertempuran terjadi didalam kota itu. Uskup ini mengasihi umat-Nya, kemudian menutup gerbang dan menolak berurusan dengan perang itu dengan berpendapat sebaiknya perang dilakukan diluar kota saja. Pertempuran yang terjadi pada hari ini sangatlah berat. Goth telah menyudutkan Jenderal Belesarius dan para pejuangnya sampai ke dinding kota Roma. Hal itu mengakibatkan keputusasaan, hal itu tampak atau seolah-olah Bellsarius dan tentaranya akan dihabisi sepenuhnya. Jadi, Belisarius bergegas mengirimkan pesan kepada Justinian, atasannya, dimana didalam pesan itu Jendral Belisarius mengatakan, “Selamatkan kami !” Istri Justinian adalah seorang Kristen yang kebetulan adalah teman dari uskup Roma.
Justinian memohon dengan istrinya untuk meminta uskup Roma membuka gerbang kota sehingga Jendral Bellsarius dan anak buahnya bisa masuk kedalam kota Roma agar tidak dibasmi oleh pasukan Goth. Tanpa rasa hormat kepada uskupnya, Salverius [dari Roma] membuka gerbang kota sehingga memungkinkan Jendral Bellsarius dan pasukannya memasuki kota Roma sehingga nyawa mereka terselamatkan. Justinian dan Belisarius sebelumnya sudah sepakat bahwa sekali mereka masuk ke dalam kota mereka akan mengusir uskup Roma. Jadi pada saat mereka masuk kedalam kota Roma mereka langsung menindaklanjuti rencana mereka. Mereka membuang para Uskup dan dan menempatkan orang mereka sendiri yaitu Vigilius [yang bukan orang Kristen] menduduki kursi Uskup dan menyatakan dia sebagai Paus hari itu. Dan saat itulah Kepausan muncul dan anda memilikinya, seperti nubuat dari kitab Wahyu 13: 4. Pada tahun 538 Masehi merupakan awal resmi Gereja Katolik Roma dan negara konglomerasi secara nubuatan dimulai– -(Generalized Information taken from Hope Beyond 2000 Video series “Rise of the little horn of Daniel 7 -Kenneth Cox) (Disclaimer:This is “early” Kenneth Cox material. This ministry does not condone some of the recent material coming from the ministry of Kenneth Cox.).
.
Pada tahun 538 AD, ketika Ostrogoth runtuh, yang merupakan bekas Kekaisaran Romawi Barat dan setelah penggulingan tiga kerajaan Arian yang mana Paus Roma muncul sebagai individu yang paling penting di Barat [Eropa], kepala dari sebuah Gereja yang terorganisasi dengan sebuat keyakinan yang didefinisikan secara hati-hati, dan yang berpotensi besar bagi pengaruh bidang politik. Puluhan penulis telah menunjukkan bahwa sesungguhnya yang selamat dari Kekaisaran Romawi kuno adalah Gereja Roma– E.G. McKenzie, “Catholic Church” p. 14.


A. “Gereja Katolik yang perkasa sebetulnya cuma Kekaisaran Roma yang Dibaptis… Ibukota Kekaisaran Roma kuno menjadi ibukota Kekaisaran Kekristenan (Katolik). Kantor Pontifex Maximus diteruskan menjadi kantor paus.” (sumber diambil dari: Alexander Clarence Flick, The Rise of the Medieval Church, hal. 148, 149.) — “The mighty Catholic Church was little more than the Roman Empire baptised … The very capital of the old Roman Empire became the capital of the Christian empire. The office of Pontifex Maximus was continued in that of the pope.” – Alexander Clarence Flick, The Rise of the Medieval Church, pp. 148, 149.

B. “Apa pun unsur-unsur Roma yang ditinggalkan bangsa barbar dan Arian … menjadi berada di bawah perlindungan Uskup Roma, yang adalah orang tertinggi di sana sesudah pindahnya kaisar. Gereja Roma dengan cara ini menjejalkan diri ke kursi Kekaisaran Roma, di mana Gereja sebetulnya merupakan kelanjutan dari Kekaisaran.” (sumber diambil dari: Adolf Harnack, What is Christianity? [New York: Putnam, edisi 2, direvisi, 1901], hal. 269, 270.) — “Whatever Roman elements the barbarians and Arians left … [came] under the protection of the Bishop of Rome, who was the chief person there after the emperor’s disappearance. The Roman Church in this way privily pushed itself into the place of the Roman World-Empire, of which it is the actual continuation.” Adolf Harnack, What is Christianity? (New York: Putnam, second edition, revised, 1901), pp. 269, 270.
Vatican admits connection with CAESAR  – Vatikan mengakui hubungannya dengan Kaisar Pagan Romawi
Vatikan mengakui hubungan dengan CAESAR (Kaisar) :
“…superior papal authority and dominion is derived from the law of the Caesars.” Lucius Ferraris, in “Prompta Bibliotheca Canonica, Juridica, Moralis, Theologica, Ascetica, Polemica, Rubristica, Historica”, Volume V, article on “Papa, Article II”, titled “Concerning the extent of Papal dignity, authority, or dominion and infallibility”, #19, published in Petit-Montrouge (Paris) by J. P. Migne, 1858 edition. — “…otoritas superior dan kekuasaan kepausan berasal dari hukum Caesars.” Judul “Mengenai sejauh mana martabat Kepausan, otoritas, atau kekuasaan dan kesempurnaan.”


“…the appellation of God had been confirmed by Constantine on the Pope, who being God, cannot be judged by man.” Pope Nicholas I, quoted in History of the Councils, vol. IX, Dist.: 96, Can 7, “Satis Evidentur Decret Gratian Primer Para”, by Labbe and Cossart. — “… sebutan Tuhan telah dikonfirmasi oleh Constantine pada Paus, yang menjadi Tuhan, tidak dapat dihakimi oleh manusia.”
“Long ages ago, when Rome through the neglect of the Western emperors was left to the mercy of the barbarous hordes, the Romans turned to one figure for aid and protection, and asked him to rule them; and thus, . . . commenced the temporal sovereignty of the popes. And meekly stepping to the throne of Caesar, the vicar of Christ took up the scepter to which the emperors and kings of Europe were to bow in reverence through so many ages.”–American Catholic Quarterly Review, April, 1911. — “Sudah sejak dahulu, ketika Kekaisaran Romawi dikarenakan kecerobohan kaisar-kaisar Romawi Barat yang tersisa karena belas kasihan dari gerombolan barbar, orang-orang Romawi berpaling ke satu figur untuk bantuan dan perlindungan, dan memintanya untuk memerintah mereka, dan dengan demikian, ….. dimulai dengan kedaulatan sementara (temporal) para paus. Dan melangkah ke tahta Kaisar, menjadi wakil Kristus (the vicar of Christ) mengambil tongkat yang mana kaisar-kaisar dan raja-raja Eropa yang begitu membungkuk [hormat / patuh] selama waktu yang lama.”


“Out of the ruins of political Rome, arose the great moral Empire in the ‘giant form’ of the Roman Church.”–A.C. Flick, The Rise of the Mediaeval Church, 1909, p. 150. — “Keluar [muncul] dari reruntuhan politik Roma, muncul Kekaisaran moral yang besar dalam ‘bentuk raksasa’ Gereja Roma.”


“Under the Roman Empire the popes had no temporal powers. But when the Roman Empire had disintegrated and its place had been taken by a number of rude, barbarous kingdoms, the Roman Catholic church not only became independent of the states in religious affairs, but dominated secular affairs as well. At times, under such rulers as Charlemagne (768-814), Otto the Great (936-973), and Henry III (1039-1056), the civil power controlled the church to some extent; but in general, under the weak political system of feudalism, the well-organized, unified, and centralized church, with the pope at its head, was not only independent in ecclesiastical affairs but also controlled civil affairs”–Carl Conrad Eckhardt, The Papacy and World-Affairs, The University of Chicago Press, 1937, P. 1. — “Di bawah Kekaisaran Romawi paus tidak memiliki kekuatan temporal. Tapi ketika Kekaisaran Romawi telah hancur dan tempatnya telah diambil oleh sejumlah orang-orang kasar, kerajaan barbar, gereja Katolik Roma tidak hanya menjadi independen dari negara-negara dalam urusan agama, tetapi urusan sekuler didominasi serta kadang-kadang, di bawah penguasa seperti Charlemagne (768-814), Otto Agung (936-973), dan Henry III (1039-1056), kekuatan sipil dikendalikan gereja sampai batas tertentu,. tapi pada umumnya, di bawah sistem politik yang lemah dari feodalisme, terorganisir dengan baik, bersatu, dan terpusat pada gereja, dengan Paus sebagai kepalanya, tidak hanya independen dalam urusan gerejawi tetapi juga mengendalikan urusan sipil.”


Pope Pius IX, in his “Discorsi” (I., p. 253), said:  “The Caesar who now addresses you, and to whom alone are obedience and fidelity due.” — “Kaisar telah mengatakan kepadamu, dan kepada dia sendiri (Kaisar) seorang harus taat dan setia.”


[Speaking of the time, about 500 A.D., when the Roman Empire was crumbling to pieces:] “No, the [Catholic] Church will not descend into the tomb. It will survive the Empire . . . At length a second empire will arise, and of this empire the Pope will be the master–more then this, he will be the master of Europe. He will dictate his orders to kings who will obey them”–Andrea Lagarde, The Latin Church in the Middle Ages, 1915, p. vi. — “Tidak, [Katolik] Gereja tidak masuk kedalam kubur. Gereja Katolik mempertahankan kekaisaran. Akhirnya kekaisaran [kerajaan] kedua akan muncul , dan dari kerajaan ini Paus akan menjadi penguasa [master] – lebih ini, ia akan menjadi penguasa Eropa Dia akan menentukan perintah-perintahnya kepada raja-raja untuk mematuhinya.”
Cardinal Newman admits in his book that; the “temples, incense, oil lamps, votive offerings, holy water, Holidays, and seasons of devotion, processions, blessings of the fields, sacerdotal vestments, the tonsure (of priests, munks and nuns), images, and statues… are all of PAGAN ORIGIN.” –The Development of the Christian Religion Cardinal Newman p.359 — Kardinal Newman mengakui dalam bukunya bahwa; yang “candi [biara], dupa, minyak untuk lampu, korban nazar, air suci, hari libur, dan musim pengabdian, prosesi, jubah imam, mencukur ubun-ubun yang (imam, biarawan dan biarawati), gambar, dan patung-patung … adalah semua PAGAN ORIGIN.”

The penetration of the religion of Babylon became so general and well known that Rome was called the “New Babylon.” -Faith of our fathers 1917 ed. Cardinal Gibbons, p. 106 — Penetrasi agama Babel menjadi begitu umum dan terkenal sehingga Roma disebut “Babel Baru.”


“Confiding then in the power of Christianity to resist the infection of evil, and to transmute the instruments and appendages of demon worship to an evangelical use… the rulers of the church from early times were prepared should occasion arise, to adopt, or imitate, or sanction the existing rites and customs of the populace.” -Development of Christian Doctrine, Cardinal Newman. p. 372 —“Menceritakan rahasia kekuatan Kekristenan untuk melawan infeksi kejahatan, dan untuk mengubah instrumen dan pelengkap ibadah iblis pada penggunaannya dalam pengkabaran Injil … para penguasa gereja mula-mula seharusnya memberi kesempatan munculnya, mengadopsi, meniru, atau memberi hukuman [sanksi] terhadap munculnya ritus pemujaan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat.”


Cardinal Newman lists many examples of things of “pagan origin” which the papacy brought into the church “in order to recommend the new religion to the heathen: “in order to recommend the new religion to the heathen:” “The use of temples, and these dedicated to particular saints, and ornamented on occasions with branches of trees; incense, lamps, and candles; holy water; asylums [hermitages, monasteries and convents]; [pagan] holy-days, processions, sacerdotal vestments, the tonsure, the ring in marriage, turning to the East, images, . . . and the Kyrie Eleison.”–Cardinal J. H. Newman, An Essay on the Development of Christian Doctrine, 1920 edition, p.373 [Roman Catholic]. — Kardinal Newman memberikan banyak daftar yang merupakan contoh hal-hal “asal mula kekafiran” yang dibawa kepausan kedalam gereja “untuk merekomendasikan agama baru kepada kaum kafir: ” Penggunaan candi [biara], dan ini didedikasikan untuk orang-orang kudus tertentu, dan kadang-kadang dihiasi pada kesempatan tertentu dengan cabang pohon; dupa, lampu, dan lilin; air suci; rumah imam [pertapaan, biara]; [pagan] hari libur, prosesi, jubah imamat, mencukur kepala, cincin dalam pernikahan, gambar. . .”



“The [Catholic] Church took the pagan philosophy and made it the buckler of faith against the heathen. She took the pagan Roman Pantheon, temple of all the gods, and made it sacred to all the martyrs; so it stands to this day. She took the pagan Sunday and made it the Christian Sunday. She took the pagan Easter and made it the feast we celebrate during this season . . . The Sun was a foremost god with heathendom . . . The sun has worshipers at this hour in Persia and other lands . . . Hence the Church would seem to say, ‘Keep that old pagan name [Sunday]. It shall remain consecrated, sanctified.’ And thus the pagan Sunday, dedicated to Balder, became the Christian Sunday, sacred to Jesus”–William L. Gildea, “Paschale Gaudium,” in The Catholic World, 58, March, 1894, p. 809 [A Roman Catholic weekly]. — “Gereja [Katolik] mengambil filosofi paganisme dan membuatnya menjadi perisai iman melawan kafir. Dia mengambil kekafiran Pantheon Romawi, kuil semua dewa, dan membuat suci [menganggap suci] semua martir; sampai hari ini. Dia mengambil paganisme hari Minggu dan menjadikan hari Minggu Kristen. Dia mengambil pagan Paskah dan menjadikannya suatu pesta yang kita rayakan musim ini… The Sun [Sun-god / dewa matahari] adalah dewa utama dalam dunia kekafiran… Matahari memiliki pengikut di Persia dan negeri-negeri lain… Oleh karena itu Gereja mengatakan, ‘Jaga nama pagan tua [Minggu]. Ini akan tetap disucikan, dikuduskan.’ Dan dengan demikian pagan Minggu, yang didedikasikan untuk Balder, menjadi hari Minggu bagi Kristen, suci bagi Yesus.”


“in order to recommend the new religion to the heathen:” “The use of temples, and these dedicated to particular saints, and ornamented on occasions with branches of trees; incense, lamps, and candles; holy water; asylums [hermitages, monasteries and convents]; [pagan] holy-days, processions, sacerdotal vestments, the tonsure, the ring in marriage, turning to the East, images, . . . and the Kyrie Eleison.”–J. H. Newman, An Essay on the Development of Christian Doctrine, 1920 edition, p.373 [Roman Catholic]. — “untuk merekomendasikan agama baru bagi orang kafir:” “Penggunaan kuil [biara], dan ini didedikasikan untuk orang-orang kudus tertentu, dan dihiasi pada dengan cabang-cabang pohon, dupa, lampu, dan lilin, air suci, rumah [pertapaan, biara-biara]; [pagan] suci-hari, prosesi, jubah imamat, mencukur kepala, cincin dalam pernikahan, berpaling ke Timur, gambar, dan Kyrie eleison.”


“The mighty Catholic Church was little more then the Roman Empire baptized.”– A. C, Flick, The Rise of the Mediaeval Church, 1909 edition, p. 148. From ancient Babylon came the cult of the virgin mother-goddess, who was worshiped as the highest of gods–see S. H. Langdon, Semitic Mythology, 1931 edition. This worship was taken over as Mary-worship by Rome. Heathen sun-worship on Sunday was likewise adopted by the Roman apostasy. — “Gereja Katolik yang perkasa tidak lebih dari Kekaisaran Romawi dibaptis.” Dari Babel kuno muncul pengkultusan perawan ibu-dewi, yang dipuja sebagai dewa-dewa tertinggi — see SH Langdon, Semit Mitologi, 1931 edition. Ibadah ini diambil alih sebagai penyembahan Maria oleh Roma. Pemujaan matahari pada hari Minggu itu juga diadopsi oleh kemurtadan Romawi.


“In order to attach to Christianity great attraction in the eyes of the nobility, the priests adopted the outer garments and adornments which were used in pagan cults.” -Life of Constantine, Eusabius, cited in Altai-Nimalaya, p. 94 — “Dalam usaha untuk menarik ke-kristen-an menjadi daya tarik yang besar di mata kaum bangsawan, para imam mengadopsi pakaian luar dan hiasan yang digunakan dalam kultus paganisme.”


“The Church did everything it couldto stamp out such ‘pagan’ rites, but had to capitualet and allow the rites to continue with only the name of the local diety changed to some Christian saint’s name.” -Religious Tradition and Myth. Dr. Edwin Goodenough, Professor of Religion, Harvard University. p. 56, 57 — “Gereja melakukan segala hal untuk membasmi ritual ‘pagan’ seperti itu, tetapi mengijinkan ritual-ritual tersebut dilanjutkan dengan hanya mengubah nama ilah menjadi nama orang-orang suci Kristen.”



“From the foregoing, which treats merely of the more important solar festivals, it is clear that these products of paganism are as much in force at present … as they ever were, and that Christianity countenances, and in many cases has actually adopted and practiced, pagan rites whose heathen significance is merely lost sight of because attention is not called to the source whence these rites have sprung. So heavy was this infiltration that Sir Samuel Dill exclaims: “Christianity is only a sect of the Mithraists.” -Roman Society from Nero to Marcus Aurelius, p. VII — “Dari sebelumnya, memperlakukan festival matahari lebih penting, jelas bahwa produk paganisme ini masih berlaku sampai saat ini … karena mereka pernah ada, dan berwajah Kristen, dan dalam banyak kasus sebenarnya diadopsi dan dipraktekkan, ritual paganisme kafir hanya kehilangan bentuk aslinya karena tidak disebut pada sumber dari mana ritual muncu. Begitu dalamnya penyusupan ini sehingga Sir Samuel Dill berseru: “.. Kekristenan adalah hanya sebuah sekte dari Mithraists.”


“We know that Mithraism was a state religion of Rome at the time that the Christian church was established there. Evidently tenants of Mithraism such as Sunday worship and eating the wafer in the mass were adopted into Christianity at that time” -Jim Arrabito “666 & the Mark.” — “Kita tahu bahwa Mithraisme adalah agama negara Roma pada waktu itu gereja Kristen didirikan di sana. Terbukti Mithraisme seperti ibadah hari Minggu dan makan wafer didalam acara misa diadopsi ke dalam keKristenan waktu itu.”


In Stanley’s History, page 40: “The popes filled the place of the vacant emperors at Rome, inheriting their power, their prestige, and their titles from PAGANISM.” — “Kepausan mengisi tempat kaisar yang kosong di Roma, mewarisi kekuatan mereka, prestise, dan topeng mereka dari paganisme.”


“In short, sun worship, symbolically speaking, lies at the very heart of the great festivals which the Christian Church celebrates today, and these relics of heathen religion have, through the medium of their sacred rites, curiously enough blended with practices and beliefs utterly antagonistic to the spirit which prompted them.” -Sun Lore of All Ages, Olcott, p. 248 — “Singkatnya, menyembah matahari, berbicara mengenai simbol, terletak di jantung festival besar yang Gereja Kristen rayakan hari ini, dan relik adalah milik agama kafir, melalui media ritual sakral mereka, cukup aneh dicampur dengan praktik dan keyakinan yang benar-benar bertentangan dengan semangat yang mendorong mereka.”
“Yet the cross itself is the oldest of phallic emblems, and the lozenge-shaped windows of cathedrals are proof that the yonic symbols have survived the destructions of the pagan Mysteries. The very structure of the church itself is permeated with (sexual symbolism) phallicism. Remove from the Christian Church all emblems of Priapic origin and nothing is left…” -The secret teaching of all ages by Manley P. Hall — “Salib itu sendiri adalah simbol tertua dari phallic, dan bentuk jendela katedral adalah bukti bahwa simbol yonic telah selamat dari kehancuran misteri pagan. Struktur gereja itu sendiri berasal dari (simbolisme seksual) falisisme. Hapus dari Gereja Kristen semua emblem asal Priapic dan tidak ada yang tersisa … “


“When the zealots of the primitave Christian Church sought to Christianize paganism, the pagan initiates retorted with a powerful effort to paganize Christianity. The Christians failed but the pagans succeeded. With the decline of paganism the initiated pagan hierophants transferred their base of operations to the new vehicle of primitive Christianity, adopting the symbols of the new cult to conceal those eternal verities which are ever the priceless possession of the wise.” -The secret teachings of all ages, Manley P. Hall p. CLXXXV — “Ketika orang-orang fanatik dari Gereja Kristen berusaha untuk mengkristenkan paganisme, para penggiat pagan membalas dengan upaya yang kuat untuk menjadikan Kristen penyembah berhala. Orang-orang Kristen gagal tapi orang-orang kafir berhasil. Dengan penurunan paganisme maka pagan memulai menyalurkan dasar operasi mereka ke tumpangan baru kekristenan primitif, mengadopsi simbol kultus yang baru.”


“…The world, cloaked with a form of righteousness, walked into the church. Now the work of corruption rapidly progressed. Paganism, while appearing to be vanquished, became the conqueror. Her spirit controlled the church. Her doctrines, ceremonies, and superstitions were incorporated into the faith and worship of the professed followers of Christ.” -The Great Controversy, p. 50. — “… Di dunia, berjubah dengan bentuk kebenaran, masuk ke gereja. Sekarang karya korupsi cepat berkembang. Paganisme, sementara muncul untuk kalah, menjadi penakluk. Rohnya dikendalikan gereja. Doktrin nya, upacara, dan takhayul dimasukkan ke dalam iman dan ibadah yang mengaku pengikut Kristus. “


“The belief in miracle-working objects, talismans, amulets, and formulas was dear to Christianity, and they were received from pagan antiquity . . . The vestments of the clergy and the papal title of ‘pontifex maximus’ were legacies from pagan Rome. The [Catholic] Church found that rural converts still revered certain springs, wells, trees, and stones; she thought it wiser to bless these to Christian use then to break too sharply the customs of sentiment . . . Pagan festivals dear to the people, reappeared as Christian feasts, and pagan rites were transformed into Christian liturgy . . . The Christian calendar of saints replaced the Roman ‘fasti’ [gods]; ancient divinities dear to the people were allowed to revive under the names of ‘Christian saints’ . . . Gradually the tenderest features of Astarte, Cybele, Artemis, Diana, and Isis were gathered together in the worship of Mary”–Wil Durant, The Age of Faith, 1950, pp. 745-746. — “Kepercayaan pada mujizat benda, jimat, jimat, yang mereka terima dari zaman pagan… jubah dari para imam dan gelar kepausan ‘pontifex maximus’ adalah warisan dari pagan Roma. [Katolik] Gereja masih menghormati mata air, sumur, pohon, dan batu;… dia pikir itu bijaksana untuk memberkati ini untuk penggunaan Kristen, … muncul sebagai pesta Kristen, dan ritus pagan berubah menjadi liturgi Kristen. Kalender Kristen orang kudus digantikan dengan kalender Roma; dewa kuno diizinkan untuk menghidupkan kembali di bawah nama ‘orang suci Kristen’. .. Secara bertahap Astarte, Cybele, Artemis, Diana, dan Isis disatukan dalam ibadah kepada Maria.”


Langdon tells us that Mary worship came from ancient Babylon where the virgin mother-goddess was worshiped under the name “Ishtar.” Elsewhere in the Near East, the mother-goddess was called “Astarte, Ashtoreth, Persephone, Artemis, [Diana] of Ephesus, Venus, and Isis.” This goddess, considered to be greater than any god, was called by these heathen the “virgin mother, merciful mother, Queen of Heaven, and my lady” [which is what “Madonna” means in Italian]. Langdon says she was often sculptured in mother-and-infant images, or as a “mater dolorom” [sorrowful mother] interceding for men with a wrathful god. And thus ancient paganism was brought into the churches and lives of Christians.–see S.H. Langdon, Semitic Mythology, 1931 edition, pp. 12-34, 108-111, 341-344. Laing mentions several other corruptions by which the mother-goddess was worshiped by heathens, that Rome adopted into Christianity: holy water, votive offerings, elevation of sacred objects [lifting of the host], the priest’s bells, the decking of images, processions, festivals, prayers for the dead, the worship of relics and the statues of saints.–see Gordon J. Laing, Survivals of Roman Religion, 1931 edition, pp. 92-95, 123-131,238-241. — Langdon mengatakan bahwa ibadah Maria berasal dari Babilonia kuno di mana perawan ibu-dewi disembah di bawah nama “Ishtar.” Di tempat lain di Timur Dekat, ibu-dewi itu disebut “Astarte, Asytoret, Persephone, Artemis, [Diana] Efesus, Venus, dan Isis.” Dewi ini, dianggap lebih besar dari dewa manapun, disebut oleh orang kafir “ibu perawan, ibu penyayang, Ratu Surga, dan Putri” [yang adalah “Madonna” berarti dalam bahasa Italia]. Langdon mengatakan ia sering memahat gambar ibu-dan-bayi, atau sebagai “mater dolorom” [ibu sedih] perantara bagi pria dengan dewa murka. Dan dengan demikian paganisme kuno dibawa ke dalam gereja dan kehidupan Kristen. –see SH Langdon, Semit Mitologi, 1931 edition, hlm. 12-34, 108-111, 341-344. Laing menyebutkan beberapa kesalahan lainnya yang mana ibu-dewi disembah oleh kafir, bahwa Roma mengadopsi kekafiran ke dalam agama Kristen seperti: air suci, korban nazar, pengkultusan benda-benda suci, lonceng, penghiasan gambar, prosesi, festival, doa untuk orang mati, penyembahan peninggalan dan patung-patung orang-orang kudus.


Two dominant elements brought into Christianity from paganism by Rome were Sun worship symbols and the religious practices of ancient Babylon] “The solar theology of the Chaldaeans [Babylonians], had decisive effect . . . [upon the] final form reached by the religion of the pagan Semites, and following them, by that of the Romans when [the Roman emperor] Aurelian, the conqueror of Palmyra, had raised ‘Sol Invictus’ [the invincible sun-god] to the rank of supreme divinity in the Empire”–The Cambridge Ancient History, vol. 11, pp. 643, 646-647. — Dua unsur yang dominan dibawa ke Kristen dari paganisme oleh Roma adalah simbol pemujaan matahari dan praktik keagamaan Babel kuno. “Teologi surya orang Kasdim [Babel], memiliki efek yang menentukan… [Pada] bentuk akhir yang dicapai oleh agama Semit pagan, dan mengikuti mereka, dari orang-orang Romawi ketika [kaisar Romawi] Aurelian, penakluk Palmyra, telah mengangkat ‘Sol Invictus’ [dewa matahari yang tak terkalahkan] ke peringkat ketuhanan tertinggi dalam Kekaisaran.”


From Palmyra he transferred to the new sanctuary the images of Helios [the sun-god] and Bel, the malaise patron god of Babylon–see Cumont, The Oriental Religions In Roman Paganism, 1911 edition, pp. 114-115, 124. — Dari Palmyra ia dipindahkan ke tempat kudus baru gambar dari Helios [dewa matahari] dan Bel, dewa malaise pelindung Babylon.


“The removal of the capital of the Empire from Rome to Constantinople in 330, left the Western Church, practically free from imperial power, to develop its own form of organization. The Bishop of Rome, in the seat of the Caesars, was now the greatest man in the West, and was soon [when the barbarians over-ran the empire] forced to become the political as well as the spiritual head.”–A.C. Flick, The Rise of the Mediaval Church p. 168. — “Penghapusan ibukota Kekaisaran dari Roma ke Konstantinopel pada tahun 330, meninggalkan Gereja Barat, praktis bebas dari kekuasaan kekaisaran, untuk mengembangkan bentuk sendiri organisasi. Uskup Roma, di kursi dari Caesars, sekarang yang manusia terbesar di Barat, dan segera [ketika barbar over-lari kekaisaran] dipaksa untuk menjadi politik serta kepala spiritual.”


“Whatever Roman elements the barbarians and Aryans left . . . [came] under the protection of the Bishop of Rome, who was the chief person there after the Emperor’s disappearance . . . The Roman Church in this way privily pushed itself into the place of the Roman World-Empire, of which it is the actual continuation; the empire has not perished, but has only undergone a transformation . . . It [the Catholic Church] is a political creation, and as imposing as a World-Empire, because [it is a continuation of] the Roman Empire. The Pope, who calls himself ‘King’ and ‘Pontifex Maximus’ [the title of the Roman Emperor in the time of Christ], is Caesar’s successor.”–Adolf Harnack, What is Christianity? 1963, pp. 269-270. — “Apapun elemen-elemen Romawi, bangsa barbar dan Arya … [Datang] di bawah perlindungan Uskup Roma, yang adalah kepala di sana setelah hilangnya Kaisar… Gereja Roma dengan cara ini mendorong dirinya ke tempat Kekaisaran Romawi, yang merupakan kelanjutan yang sebenarnya;… kekaisaran tidak binasa, tetapi hanya mengalami transformasi Ini [Gereja Katolik] adalah ciptaan politik, dan penetapan sebagai Kekaisaran dunia, karena [itu merupakan kelanjutan dari] Kekaisaran Romawi. Paus, yang menyebut dirinya ‘Raja’ dan ‘Pontifex Maximus’ [gelar Kaisar Romawi di zaman Kristus], adalah penerus Kaisar.”

·         Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. (Lukas 4:6).

·         Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18:36).

·         Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam. (Wahyu 13:18).

·         Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa [yang berada di Sorga], kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6).

·         Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. (Lukas 12:2-3).

·         Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. (Efesus 5 : 11).

dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” – (Kisah Para Rasul 1:11)

Sebelum Tuhan Kita Yesus Kristus naik ke Sorga, Dia tidak menitipkan mandat kepada siapapun untuk mendirikan Kekaisaran / Kerajaan Kekristenan atau tidak mewakilkan kepada siapapun (termasuk Simon Petrus). Akan tetapi Dia akan segera datang kembali untuk keduakalinya.
“Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetaka” (Wahyu. 18:4). Artinya keluar dari ajaran Babylon (Sistem Babylon) supaya selamat masuk ke Sorga. Amen.

Tidak ada komentar: