Translate

Selasa, 22 September 2015

SEORANG ATHEIS MELIHAT SURGA DAN NERAKA KESAKSIAN YOUNG MOON PARK


              
  The Most Incredible Christian Testimony of Heaven and Hell


Pada tanggal 3 april 1986 merupakan hari bersejarah didalam hidupku. Tahun 1985, saya mengendarai sepeda motor dibawah pengaruh obat dan mengalami kecelakaan. Kemudian saya masuk penjara. Istriku mendesak supaya bercerai selepas aku keluar dari penjara. Kemudian saya merencanakan untuk membunuh delapan orang : istriku, keluarganya, bahkan saudara yang masih kanak-kanak – yang mendorong istriku untuk bercerai dengan saya. Hal terakhir yang saya lakukan sebelum melaksanakan rencana pembunuhan itu adalah menemui ibuku di Geang Joo, kemudian saya memesan tiket kereta api yang bertolak dari kota Seoul pada pukul 10.40 pm. Hari itu adalah malam 3 April 1986.

Sementara saya berada di rumah ibuku, saya mendengar suara resonansi yang tidak pernah saya dengarkan sebelumnya sekitar 40 menit sebelum masuk kereta. Itu adalah suara kuat yang hampir meledakkan telinga saya. “Lihat … lihat” katanya. Karena merasa aneh, saya keluar didepan pintu masuk dan melihat sekeliling, tetapi tidak ada seorangpun. Kemudian saya kembali ke kamar tidur dan menyalakan rokok. Tiba-tiba, ruangan itu menjadi terang. Saya begitu terkejut dan melihat pintu kamar tidur merasa bingung. Tidak disengaja, saya berteriak.

Sementara suatu pelangi cerah turun, ada sesuatu yang turun dari cahaya itu. Ternyata, itu adalah seorang yang memakai pakaian putih. Disebabkan karena sinar yang terang, saya tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tetapi jelas wajahnya adalah wajah manusia. Sementara itu, sebuah kereta kuda setengah lingkaran mengikuti dibelakang manusia itu.

Ada tiga tempat duduk didalam kereta itu. pada tengahnya kosong dan ada dua orang yang juga mengenakan pakaian putih yang duduk didua sisi. Jika seseorang yang percaya kepada Yesus melihat adegan itu, maka ia akan tersentuh sekali. Tetapi saya tertegun dikarenakan saya seorang atheis. Suatu yang aneh bisa saya tambahkan disini yaitu bahwa perasaan benci saya yang berkobar-kobar hilang.

Saya membangunkan ibu saya yang tidur disebelah saya. Tetapi sepertinya dia tidak melihat adegan itu dan dia mengabaikan aku, dengan mengatakan “Jangan mengada-ada” kemudian kembali tidur. Ketika aku melihat kereta itu lagi, aku terkejut Seorang yang menyerupai aku duduk di tengah tempat duduk yang tadinya kosong. Kemudian saya menyentuhnya, untuk memastikan bahwa dia nyata. Rasanya saya sedang melihat suatu cermin.

Segera setelah saya duduk di tempat duduk, kereta itu tinggal landas. Kemudian, saya dengan jelas melihat surga dan neraka. Setelah melewati suatu jalan emas, saya melewati suatu tempat dimana orang seperti aku berjalan disepanjang jalan di taman bunga, mencium bunga-bunga. Saya dapat melihat banyak orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia.

Saya dengan jelas melihat wajah pamanku disamping ibuku, dimana paman saya telah menjadi Kristen dan meninggal dikarenakan penyakit. Tetapi, aku tidak menemukan bekas penyakit pada pamanku itu. Penampilannya seperti pemuda berusia 30 tahun-an dengan wajah dan tubuh muda, persis sama bagaimana saya melihat dia ketika saya sedang kelas 3-4 sd. Damai dan sukacita, tidak terlihat kecemasan, dan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi, tidak terpancar diwajahnya. Sembari mendengarkan suara musik yang terus menerus, kereta emas melewati rumah-rumah indah setelah mengendarai selama beberapa hari. Ketika kami sampai kesana, malaikat yang awalnya tidak mau menjawab apapun pertanyaan saya akhirnya mengatakan “Disini adalah Surga,” dengan suara yang jelas.

Ada sejumlah besar rumah yang terbentang di horizon. Suatu perasaan jelas yang saya rasakan dari rumah-rumah itu seperti yang terlihat didunia begitu teratur rapi dan siap dan menunggu penghuni untuk masuk kedalamnya. Tidak seperti tempat dimana pamanku berada, disini saya dapat melihat semua orang. Saya bertanya kepada malaikat, tetapi mereka tidak menjawab.

Kereta itu tiba-tiba memasuki suatu tempat yang gelap, seperti malam hari. Satu-satunya sumber penerangan berasal dari sinar yang berasal sinar terang sebesar bulan purnama. Sumber terang itu ada didalam bentuk seperti orang yang mengenakan pakaian putih seperti yang mengendarai kereta. Saya ketakutan, sembari berpikir “Mereka telah menunjukkan kepadaku hal terindah yang tidak pernah saya lihat dibumi, apa sekarang mereka akan membunuhku ?”

Cahaya yang menyerupai bentuk manusia itu menerangi seseorang sebelum aku menyadari siapa dirinya. Saya menyaksikan ayahku disana yang telah meninggal 6 tahun yang lalu. Ayahku seorang yang sukses dan menopang keluarga. Dia sukses memegang jabatan kepala sekolah di sekolah Konfusius (Kong Hu Cu). Ketika dia masih hidup, dia menolak seseorang yang mengatakan Yesus kepada dirinya. Ketika dia akan meninggal di ranjang, dia sangat sengsara dan tubuhnya bengkak dan dapat meledak (semacam bengkak bernanah mungkin). Didepan mataku aku melihat ayahku menderita seperti saat dia mau meninggal.
Ular berwarna biru berkepala tiga, cukup untuk menyembunyikan pergelangan kakinya, mengoyak tubuh ayahku, merayap, melilit dan menggigit sekujur tubuhnya. Saya menangis dan memanggil namanya, tetapi dia tidak dapat mendengar.   Tempat kedua yang saya datangi, sejumlah besar manusia dikumpulkan mencoba melarikan diri dari api pada sebuah piringan besi besar. Saya melihat orang lain yang kukenal disini. Dia adalah saudara tua ayah saya, yang hidup berkelimpahan, dia mengatakan bahwa uang adalah segalanya. Dia tidak dapat mendengarkan suaraku juga.

Suatu tempat yang diterangi dengan sinar ketiga, saya melihat seorang teman yang meninggal pada kecelakaan lalu lintas. Tiga ekor ular kekuningan melilit dia kuat kuat. Demikian sehingga wajahnya menjadi pucat. Teman saya ini juga suka minum minuman keras seperti saya, tetapi dia malangnya meninggal dikarenakan kebanyakan minum alkohol.

Tempat ketiga yang diterangi adalah sekumpulan orang didalam rawa setinggi pinggang. Binatang buas mengoyak, menggigit dan mencakar mereka. Saya dapat mengenali dua orang dari mereka, seorang saudara dan teman masa kecil diantara banyak manusia yang berusaha untuk melarikan diri dari binatang buas tersebut. Saya tidak tahu pada saat itu, tetapi saya ingat bahwa saudara saya itu menghadiri gereja disebabkan gereja dapat menyembuhkan penyakit, jadi tidak mempunyai iman murni. Dia menyia-nyiakan waktunya dengan hati mendua, satu kaki di gereja dan kaki lainnya di dunia.

Saya melihat ayah saya di neraka dan melihat paman saya di surga.

Seingat saya, neraka merupakan tempat yang tidak bisa dibayangkan, tempat yang mengerikan. Saya dengan jelas melihat ayah saya, paman saya, teman dan saudara didalam tempat kegelapan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangisi mereka. Saya, seorang yang dahulunya berpikir bahwa segala sesuatu berakhir setelah kita meninggal, kenyataannya akan menghadapi suatu kenyataan. Setelah melihat neraka, kereta berhenti pada suatu tempat yang disebut dataran penghakiman (Wahyu 20 : 13). Disini, saya melihat dapat melihat semua dosa saya yang telah saya perbuat dengan mata saya, tangan saya dan bahkan pikiran saya semenjak lahir yang memang direkam.

Saya tidak dapat menghitung jumlah dosa saya yang dilakukan sepanjang hidup saya disebabkan dosa saya dikategorikan menjadi 132 kategori, dan tiap kategori memiliki sub kategori. Diantaranya, saya melihat bahwa sebagian besar dosa saya adalah kelakuan saya yang disebabkab minum minuman beralkohol. Hal yang saya temukan adalah bahwa ada dua dosa yang tidak merupakan dosa di dunia, tetapi merupakan dosa di surga. Satu adalah tidak percaya Yesus dan satunya lagi adalah mengutuk atau mengejek orang yang percaya kepada Yesus.

Semua dosa masa lalu saya direkam – lengkap dengan tanggal dan waktu – seperti tidak menghadiri gereja, menyobek dan membuang Alkitab dan buku pujian kedalam api, mengutuk, tidak menghormati teman penginjil, bahkan menampar muka dan menendang mereka. Saya bertanya suatu pertanyaan yang sudah ingin ditanyakan disini. “Mengapa engkau menunjukkan kepadaku tempat seperti ini kepadaku, seseorang yang membenci Yesus dan berbuat banyak dosa, dibandingkan kepada saudaraku yang melalui susah payah untuk percaya Yesus ?” Seorang malaikat yang berada disampingku memberi jawaban : “Tidak perlu bagi seseorang seperti saudaramu untuk datang kesini. Seseorang seperti kamu tidak akan dapat memberikan kesaksian kepada orang lain kalau kamu tidak melihat surga dan neraka dengan mata kamu sendiri.”

Itu adalah jawaban yang berhubungan dengan ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa seseorang seperti saudaraku yang percaya tanpa melihat akan lebih diberkati. Segera setelah itu, kereta itu mulai bergerak kembali. Tiba-tiba, saya dapat melihat suara keras yang menanyakan “Apakah kamu percaya ?”

Suara ini seperti suara yang sama yang saya dengar sebelum meninggalkan Seoul untuk membunuh ke-8 orang tersebut. Saya tidak pernah menerima Tuhan sebagai Ayah Surgawi saya, Saya mau menerima Tuhan, dengan alamiah saya menjawab : “Tuhan ! saya percaya Engkau”. Tuhan meneruskan berkata, “Ketika kamu kembali ke dunia, bersaksilah mengenai surga dan neraka kepada orang lain. Jangan menambahkan atau mengurangi dari apa yang kamu lihat.” Ketika mulai berangkat, hal terakhir yang Dia ucapkan adalah : “Saya akan mengawasi kamu.”

Saya merasa melakukan perjalanan berhari-hari, tetapi saat itu jam 11:10 PM ketika saya terbangun, merasa takut. Semua ini berlangsung selama 70 menit. Tidak ada konsep waktu dunia ditempat tersebut. Setelah sadar, ibu saya melihat saya dengan wajah tegang. Dia mengatakan bahwa saya mengigau dan tidak bisa dibangunkan padahal dia sudah berusaha. Setelah itu, saya menceritakan kepada dia mengenai apa yang saya lihat. Ibu saya, yang selalu berteriak kala mendengar nama Yesus, menangis setelah mendengar kisah bahwa suaminya menderita. Saya dan ibu saya menjadi disiplin kepada Yesus dan mengambil pendalaman Alkitab, kemudian bergabung dengan gereja pada hari yang sama. Ibu saya dan saya menjadi antusias ke gereja.
The Most Incredible Christian Testimony of Heaven and Hell – Young Moon Park




Tidak ada komentar: