Translate

Rabu, 23 September 2015

Saatnya untuk Menari!  Oleh Julie Meyer
Kunjungan Julie Meyer: Julie Meyer adalah pemimpin puji-pujian pada International House of Prayer/Rumah Doa Internasional, di Kota Kansas sejak tahun 1999.


Tuhan datang padaku dan berkata, " Aku mau engkau bertemu sahabat-sahabat-Ku." Saya bersukacita dan berpikir bahwa akan bertemu Yesaya, Yeremia, Petrus, Zacharia, Musa. Dia memegang tanganku dan kamipun terangkat terbang keliling langit, seperti film kartun Loop to Loop. Saya tak takut walaupun berada sangat tinggi dari tanah. Kami berkeliling dan dapat kurasakan terpaan angin lembut di-wajahku. Dapat kurasakan tangan-Nya memegang tanganku dan sangat tinggi dari permukaan tanah dan senang merasakan angin pada wajahku. Saya tak takut, dan terus memegang tangan-Nya. Tiba-tiba kulihat wajah-Nya berubah. Dia menatap sesuatu pada bumi dan kamipun mulai menurun. Ku-pandangi Dia, pada wajah-Nya dan dapat kulihat mata-Nya, wajah yang penuh kepastian. (Yesaya 50:7 Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu).


Aku terus berpikir bahwa kami tak akan menabrak tanah, tetapi kulihat wajah-Nya dan ada kepastian di wajah itu dan kurasakan sesuatu yang mengerikan muncul padaku, walaupun tangan-Nya kupegang. Kami tetap terbang menuju ke bumi dengan kepala tertuju ke tanah dan Dia terlihat seperti tak akan berbalik. Tiba-tiba kami menabrak dan masuk terus ke dalam tanah. Kurasakan gumpalan. Seperti menonton filem aksi. Dapat kudengar suara meledak di sekeliling kami seperti suara saat berdiri disamping pesawat roket yang siap meluncur. Sangat memekak-kan. Kami masuk tembus ke bumi dan wajah Tuhan tak pernah menoleh ke kanan atau ke kiri; sangat pasti, ke depan. Dapat kulihat dengan mataku saat mendekat ke bumi, menabrak tanah dan ledakan itu saat kami melaluinya. Dapat kulihat bumi, batu, air, api yang bernyala dan kurasakan seperti tersengat dan kulit-ku seperti terbakar. Saya sungguh merasakan batu-batu dan bumi yang merobek kulitku seolah-olah terjadi pada-ku. Dapat kurasakan kesakitan yang sangat dalam mimpiku.
Tiba-tiba kami menembus ke luar bumi dan berada di tempat lain. Saya berdiri di sana dan kulihat tubuhku yang terkelupas, kulitku terkelupas, dan sangat menderita karenanya, tetapi semuanya itu bukan tentang saya. Yesus memandangku, dekat pada wajahku, mata dengan mata, dan Dia berkata, "Aku mau engkau bertemu teman-teman-Ku." Saya menangis kesakitan. Dan berpikir pasti Dia akan mengerti betapa sakit kulitku yang terluka dan terkelupas, tetapi Dia tidak melakukannya. Ku-lihat sekelilingku dan kulihat tempat yang ramai. Saya tak pernah berada di sana sebelumnya, namun kutahu tempat itu India. Bau yang menyebalkan dan banyak orang dimana-mana, saya mengikuti Tuhan. Dia tak menoleh pada-ku. Seolah-olah IA mau ku-rasakan kesakitan dan luka pada kulitku. Banyak anak-anak yang kulihat disana-sini.


Ada anak-anak perempuan cantik terkurung dan Tuhan sertai mereka masing-masing. Dia hanya berdiri di sana bersama mereka. Mereka dilupakan dunia, merekalah yang Tuhan sebutkan sahabat-sahabat-Nya. Kulihat anak-anak kecil terbaring di tanah dengan lalat-lalat pada kulitnya, dan kulihat mereka meninggal saat dikehidupan yang keji ini dan saat terbangun, Tuhan-pun ada di sana, bagi tiap-tiap mereka, Dia ada di sana. TAK SATU-PUN dari mereka yang terlupakan dimata-Nya, tak satupun.


Sedih kulihat, bersamaan dengan rasa sakit di-tubuhku, membuatku menangis. Tuhan berdiri dihadapanku, kupikir pasti Ia mengenai aku saat ini, Ia pasti melihat penderitaan-ku, namun Ia berkata, "Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku." Saya tak sanggup. Berada di sana melihat anak-anak meninggal, ibu-ibu yang menarik nafas terakhir, penyakit-penyakit menyebar, dan anak-anak perempuan kecil dijual dan Tuhan terus menerus berkata, "Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku. Engkau tak mengenal-Ku”. Lalu saya tenggelam dalam tangisan, kejutan terjadi, Tuhan memandang wajahku, mata bertemu mata lalu berbisik, "Saatnya untuk menari." Ia berbicara seperti itulah senjata rahasia-Nya, Menari…


Tuhan menari, kaki-Nya dihentakkan. Kaki sempurnah yang menyatakan luka-luka kematian dan kehidupan sedang menari dengan ritmenya, detak suku-suku,Kaki-Nya menghentak ketidak-adilan. Tarian yang sangat dasyat dan hentakkan kaki yang pernah kusaksikan. Menonton Tuhan sendiri, bekas luka oleh pengasihan menari di atas ketidakadilan atas sahabat-sahabat-Nya. Ia berkata,"Sampai hati-mu terluka dan tersayat menjadi dua, kau tak kenal sahabat-sahabat-Ku. kau tak mengenal-Ku."
Lalu tanganku dipegang dan kami pergi menuju pusat bumi, kurasakan sakit pada kulitku dan kulit yang terkelupas serta daging yang tersayat dari tulangku dan suara ledakkan saat kami melalui bumi. Tiba-tiba kami berada di ruangan Dokter di RS. Awal pikiran-ku adalah sakit tubuhku. Aku rasa seperti tak ada kulit pada tulangku, seperti semuanya terkelupas. Dia berkata,"Aku mau kau temui sahabat-sahabat-Ku." Aku lihat tempat sampah terisi bayi-bayi mungil. Dapat kulihat kepala dan tangan dan kaki-kaki mungil mengisi tempat-tempat sampah. Beberapa masih hidup dan bergerak, kulitnya terbakar, beberapa kepala diantara mereka hancur, beberapa lagi utuh, mata terbuka dan menatap. Saya terkejut. Tuhan menatap-ku dan berkata,"Sampai hati-mu terluka dan tersayat seperti dagingmu, kau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku, inilah sahabat-sahabat-Ku. Mereka-lah sahabat-sahabat-Ku." Saya melihat saat bayi dipegang melalui kakinya dan dibuang pada tempat sampah, bayi utuh. Dapat kurasakan pikiran Tuhan.


"Oh kesunyian di bumi, mereka terlihat seperti dilupakan. ENGKAU TAK DILUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN!”


Sunyi di bumi, namun suara mereka terdengar di telinga sang Bapa, Allah Maha Tinggi. Jeritan-nya tak terhenti di koridor Surga. Terdengar pagi dan malam, malam dan pagi, tangisan mereka MENARIK PERHATIAN SURGA. SELURUH PERHATIAN TERTUJU PADA MEREKA, telinga ALLAH MAHA TINGGI. Saya menjerit. "KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU. KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU Engle! KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU!" Ku lihat di koridor Surga dan bahwa nama Lou Engle dikenal. Lou kenal sahabat-sahabat Tuhan. Ku-dengar tangisan bayi-bayi terus-menerus melalui koridor Surga, terlihat hening di bumi, yang terlupakan oleh bumi, namun tangisan mereka mendapat telinga Bapa dan pagi dan malam serta malam dan pagi menangis bagi keadilan di bumi, menangis bagi keadilan mereka yang telah mengambil kehidupan-nya. namun.....di seberang sana MEREKA BERSUARA!!! Pagi dan malam serta malam dan pagi.....menangis akan keadilan di bumi......dan MEREKA mendapat TELINGA SANG BAPA! Dan lagi, Tuhan memandangi-ku dan berkata, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, kau tak mengenal Sahabat-sahabat-Ku, kau tak mengenal-Ku."


Saya menangis lalu Tuhan memandangku, dekat di-wajah-ku, dan berbisik, "Saatnya untuk menari." Dia memulai "Tarian Baru" dengan kaki yang sempurna yang telah menapak bagian bumi tertinggi, sekarang kaki-kaki tersebut menari dan berdetak, tepat di antara klinik pengguguran bayi. Sangat dasyat. Disaat saya sangat terluka Tuhan berkata,"Saatnya untuk menari. Saatnya untuk berperang, menari ialah berperang." Dia mendetak-kan kaki, dengan ritme baru, detak-kan kaki-Nya. Bukan dua langkah, hanya mendetak-kan kaki pengadilan akan ketidakadilan, dengan kaki-Nya sendiri Ia berkata, "Hanya nantikan saja hingga seluruh bumi bergabung dengan-Ku dalam tarian ini, beberapa telah bergabung dengan-Ku dan Aku membuka undangan namun engkau hanya menari saat hati-mu sangat terluka dan tersayat."


Lalu Ia datang pada-ku dan berkata, "Aku mau engkau bertemu beberapa dari sahabat-sahabat-Ku." Dan kami-pun pergi melewati pertengahan bumi, lagi-lagi. Saya hampir tak dapat berdiri. Hati-ku hancur. Kulit-ku tersayat. Kulihat ke bawah dan terlihat seperti kejatuhan bom di sampingku. Kami berjalan di jalan yang sangat-sangat ramai. Dia berjalan di depan-ku sedang saya dalam kesakitan yang sangat, ingin sekali agar Ia berjalan perlahan, namun bukan mengenai-ku. Dia mau saya merasakan penderitaan, sebab Ia mau hati-ku MENGENAL penderitaan, memeluknya dan memilikinya sebagai milik-ku. Dia menunggu-ku berjalan di samping-Nya. Tempat ini Israel. Saat yang lain kulihat Dia menyondong pada seseorang, seolah-olah berkata,"Hello" atau "Syalom". Dia tak berbicara, Hanya menyondongkan kepala. Dia memandang mata mereka dan menyondongkan kepala-Nya dan kulihat orang yang didatangi-Nya, mata mereka membesar. Ku-lihat juga hati mereka dan ku-lihat nyala terang. Hanya sesaat, Yesus membuka hati mereka dan mereka dapat MELIHAT DIA, sebagai Yesus, Mesias. Saya dapat melihat ke dalam mereka saat kami berjalan di jalan Yerusalem disaat dimana tiba-tiba mata hati mereka dibuka oleh Tuhan dan nyala terang mulai bersinar dalam hati mereka.


Beberapa orang di antara mereka ku-tahu mempunyai wewenang, pemimpin-pemimpin Yahudi dalam golongan Yahudi – rabbi-rabbi. Dapat ku-lihat sejenak Tuhan membuka mata mereka; Ku-lihat Tuhan menampakkan diri-Nya. Dia menampakkan diri-Nya kepada beberapa rabbi-rabbi di daerah itu, dan hanya dalam sekejap, Api penglihatan ini mulai membakar hati mereka, dalam sekejap mata hati mereka terbuka. (Mazmur 102:17 Bila Tuhan sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.)
Kami mengikuti rabbi-rabbi ini ke kamar atas mereka dan saya melihat mereka jatuh berlutut dan menangis, “Ini merubah SEMUANYA. Ini merubah SEMUANYA.” Saya dapat melihat Tuhan berdiri dan meniup api dalam hati mereka dan sedikit demi sedikit mulai menyala tak terkendali . Saya melihat api dalam hati mereka menjadi seperti 'Api yang menutup kulit mereka." Ku-lihat api ini terus menyala hingga hari yang ditentukan tiba saat rabbi-rabbi ini tak dapat menahan lagi dan mereka akan berteriak di atas gunung-gunung, "Yeshua adalah Mesias"......YESHUA ADALAH MESIAS!" Saya sebenarnya sedang berpikir bagaimana kami berdoa dalam kumpulan doa kami di Kota Kansas, bahwa Tuhan Yesus akan muncul, dalam kemuliaan-Nya. Dia sungguh,sungguh mulia.


Saya menoleh dan saat pertama kali kupandang wajah Yesus dan air mata yang jatuh di pipi-Nya dan ku-dengar IA berkata, "Oh Yerusalem, Oh Yerusalem." kurasakan dihatiku belas kasihan dan cinta yang dimiliki-Nya bagi Israel. Dan kurasakan sakit hati kekasih itu ketika tak ada yang mencintai-Nya sebagaimana cinta-Nya pada Israel dan Ia memandang-ku, dan berkata lagi, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat, sama seperti kulit-mu, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku. Engkau tak mengenal-Ku." Dalam hatiku Kurasakan cinta-Nya yang mendalam bagi Israel. Seperti Yakub mencintai Rahel, Elkana mencintai Hannah, namun belas kasih-Nya menyeluruh lebih dari cinta alami. Saya menangis dan air mataku membasahi luka di daging-ku, walaupun demikian saya tak dapat berhenti saat saya berpikir bahwa saya tak sanggup lagi, dan terjatuh di lantai, Dia berbisik, "Saatnya untuk menari."


Tiba-tiba kami berada di tembok duka dan Tuhan memulai lagi, hentakkan kaki, menghentak, ritme ini, tarian ini dengan kaki sempurna-Nya, tak pernah kulihat sebelumnya. Selalu terjadi pada saat saya merasa terluka dan berduka Tuhan akan berkata,"Saatnya untuk menari." Saya dapat merasakan kehadiran Kuasa dan Kuasa tarian ini, menari karena ketidakadilan. Oh alangkah indah-nya menyaksikan saat Anak Allah menari dengan kaki sempurna berputar dan berdansa atas ketidakadilan. Yesus terus mengatakan, "Saatnya untuk menari. Saatnya untuk menari." Ada tarian baru yang muncul, yang muncul pada saat kita menyembah-Nya dan hati kita bagi bumi yang hina ini, bagi mereka yang terlupakan, namun yang disebut Tuhan sahabat-sahabat-Nya dan saat hati kita sungguh hancur, SAAT ITULAH saat menari. Oh alangkah indahnya saat RAJA segala raja, Hakim seluruh bumi dan kaki sempurna yang berbekas luka pengasihan, mulai berdansa dan menghentak-kan ketidakadilan. Sebuah tarian bermakna. Hentakkan kaki bermakna! Saatnya menari. Dan kutahu dalam mimpi-ku dimana kami berjalan di Yerusalem, terus ke atas puncak tembok duka, dimana Ia memulai tarian-Nya. Saya tahu bahwa Ia telah menampakkan diri-Nya pada orang-orang penting dalam golongan Yahudi, bahkan rabi tertinggi dalam golongan Yahudi, ditengah-tengah tarian-Nya, kulihat mata mereka terbuka. Dapat kulihat ke dalam hati. hati mereka mulai bergejolak. Kulihat Tuhan menaruh dalam hati mereka, "pengenalan" bahwa Dia-lah Mesias itu. Saatnya telah pasti ketika rabi-rabi tertinggi ditentukan di bumi, waktu Tuhan – Dia akan mengaduk hati mereka dan hati mereka akan bergejolak dan mereka berlari ke tempat tertinggi di Yerusalem dan berseru ke seluruh Yerusalem, Yeshua adalah Mesias. Yeshua ADALAH MESIAS!


Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Saat ini, mereka menyembunyikan-Nya dan menanyakan diri mereka sendiri jika hal itu sungguh-sungguh terjadi. Telah ditentukan saatnya dan hari-hari ke depan, Dia sedang menampakkan diri-Nya dan membuka mata hati manusia dan menyalakan api dalam tulang-tulang itu. Kulihat Rabi-Rabi ini melonjak dengan Firman Tuhan, menyatakan penampakkan-Nya. Sedang terjadi. Saatnya telah ditentukan. Sedang terjadi hari ini.

Yeremiah 20:9 Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya," maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.


Kemudian, Tuhan berkata lagi,"Sampai hatimu tersayat dua dan hatimu terbelah dua, seperti dagingmu, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku."


Saatnya untuk menari!


Tidak ada komentar: