Translate

Selasa, 29 September 2015

SEORANG ATHEIS BERTEMU YESUS OLEH HOWARD STORM


Kesaksian Howard Storm Seorang Profesor Atheist ketemu Yesus

A Powerfull Testimony of Near Death Experience

Yohanes 11:25 - Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Howard Storm adalah professor kesenian dan kebudayaan yang berada di Paris bersama muridnya, ketika perutnya tiba-tiba, melilit sakit, peritonitis, shock, kematian yang tiba-tiba, kematian klinikal, resusitasi, dan pengalaman di neraka. Saya berusia 38 tahun dan seorang profesor, mengajar seni. Saya membawa murid-murid dan isteriku berkeliling Eropa. Kami baru saja selesaikan tur 3 minggu, inilah yang terjadi pada hari terakhir. Kami di Paris, pada jam 11:00 pagi, ada lubang di perutku. Saat ini terjadi, sakit yang pernah terjadi dalam pengalaman hidup saya, dan membuat saya terjatuh kelantai. Jadi saya melilit, berteriak, mengeluh, menendang dan berteriak keliling dilantai, dan isteri saya menelepon pelayanan darurat. Seorang Dokter datang dengan ambulan karena ia tahu apa yang terjadi. Ambulans membawa saya sepanjang 8 mill ke Rumah sakit umum.

Kemudian saya dibawa ke Ruang gawat darurat dan di layani oleh 2 Dokter lagi, yang tahu persis apa yang salah pada saya. Kemudian saya dimasukkan ke kamar operasi. Tetapi karena tidak ada Dokter bedah pada saat itu, Saya berada disana menunggu. Saya berbaring selama 8 sampai 10 jam di RS tanpa pengobatan, penelitian, atau perhatian apapun, hanya menunggu seorang ahli bedah untuk memberikan krisis operasi padaku. Saat itu 8:30 malam seorang suster datang dan memohon maaf sebab tak mendapat Dokter untukku tetapi ada pada hari esok. Ketika dia mengatakannya saya tahu bahwa waktuku sudah habis, dan bahwa saya telah mati. Yang membuat saya tetap hidup adalah bahwa saya tak mau mati. Saya atheis, seorang yang tidak percaya, seorang yang hidup untuk kepentingan dirinya. Disamping rasa sakit, sekarat-lah yang terburuk terjadi padaku karena itulah saat terakhir hidup, dan tiada lagi, tak ada. Namun ketika dia katakan tidak ada Dokter sampai hari berikutnya, ide untuk mencoba hidup kesuatu menit atau jam tak berguna lagi.

Saya telah menunggu dalam pengharapan bahwa mereka akan membawa Dokter dan melakukan operasi, membedah saya dan memperbaiki saya. Tetapi ketika dikatakan bahwa tidak ada Dokter, saya katakan pada isteriku bahwa waktunya untuk kami mengucapkan perpisahan karena saya akan mati sekarang. Jadi dia berdiri dan memeluk saya, dia mengatakan betapa dia sangat mencintaiku dan saya mengatakan betapa saya mencintainya, sangat sedih. Kami melakukan perpisahan. Kami mengatakan semua hal setelah hidup bersama 20 tahun. Dia akhirnya duduk karena dia tahu sudah selesai, dan demikianlah denganku. Sangat berat melihat dia menangis, saya menutup mata dan membiarkan berlalu. Saya pingsan. Saya mungkin pingsan pada waktu singkat, mungkin beberapa menit. Kemudian pingsan lagi. Saya membuka mata dan melihatku berdiri disamping tempat tidurku. Saya tahu persis dimana saya berada, dan bagaimana situasinya, tidak ada kebingungan dalam pikiran. Saya rasa hidup, lebih nyata daripada yang pernah saya alami. Orang bertanya "apakah anda roh?" Sebaliknya, Saya sungguh hidup.Saya memandang seluruh ruangan, dan melihat ada sesuatu dibalik selimut, sebuah tubuh. Jadi saya menunduk untuk melihat wajahnya dan terlihat seperti saya.

Tetapi apakah itu mungkin, saya hidup, sehat, bahkan lebih dari hidup. Jadi saya mencoba berbicara dengan isteriku, tetapi dia tidak dapat mendengar atau merasakan saya. Saya berpikir dia hanya mengabaikan saya. Sehingga saya menjadi marah, karena dia mengabaikan saya. Jadi saya berteriak dan menjerit padanya, "Mengapa ada tubuh sepertiku di tempat tidur? Bagaimana bisa ada disana?" Pikiran saya berkata bahwa itu tubuhku, tetapi sangat takut berpikiran semacam itu. Jadi saya bertambah marah, karena semua ini sangat aneh. Hal ini tak mungkin terjadi, tak mungkin; Saya memakai pakaian RS,dan semuanya sangat nyata. Saya mendengar teriakan orang memanggilku dari luar, suara sangat lembut. "Howard, kau perlu ikut dengan kami sekarang. Cepatlah,keluarlah kemari." Jadi saya berjalan kearah pintu. Banyak orang dikoridor. Koridor itu terlihat pucat, abu-abu, tidak terang atau gelap,hanya abu abu. Semua orang laki-laki dan perempuan memakai pakaian abu-abu, yang dapat disebut seragam RS. Saya bertanya apakah mereka dari Dokter yang akan membawah saya keruang operasi. Saya mengatakan semua situasiku dan bagaimana saya telah menunggu. Mereka terus saja berkata, "Kami tahu, kami tahu, kami mengerti. Howard cepatlah,ikutlah kami,kami telah menunggumu."

Saya meninggalkan ruang yang cerah dan terang, dan pergi ke Koridor yang pucat dan pasi. Saya mengikuti orang-orang ini; perjalanan kami jauh. Tidak ada waktu, dan saat saya mencoba mengukur waktu, hanya suatu ilusi karena tidak ada waktu ditempat ini. Tetapi tempat ini, jika saya harus mengukur, maka saya harus berjalan dari Nashville ke Louisville (175 mil, 281 km) untuk mengukur perjalanan orang-orang ini. Sewaktu berjalan mereka berada didekatku, terus mendorongku, dan mulai gelap dan gelap. Mereka mulai menjadi terbuka siapa mereka yang sebenarnya. Awalnya mereka manis membuatku ikut dengan mereka. Kemudian ketika saya ikut mereka mengatakan hal seperti, "cepat, teruslah bergerak, diam, hentikan pertanyaanmu" terlihat lebih jelek. Kami memasuki tempat yang sangat gelap dan saya ketakutan. Orang-orang ini sangat kaku dan saya tak tahu dimana saya berada. Saya katakan, "Saya tak akan berlanjut denganmu." Mereka berkata, "kamu hampir tiba disana." Kami mulai berkelahi dan saya mencoba lari tinggalkan mereka. Mereka menolak dan menarik saya. Sekarang jumlah mereka banyak. Awalnya beberapa, sekarang dalam kegelapan mungkin 100 atau 1000, saya tak tahu. Mereka mempermainkanku. Mereka dapat merusakku jika mau, tetapi mereka tak mau, mereka ingin membuatku sakit, dan mengambil kepuasan atas pengalaman sakitku. Sangat berat bagiku untuk berkata-kata, dan saya tak akan bercerita banyak tentang hal itu; terlihat jelek. Mereka mulai merobek dengan kuku mereka, mencakar, mengelupas kulitku, mengerumuni, dan menggigit.

Saya mencoba membela diri, mencoba melawan dan lari meninggalkan mereka tetapi seperti berada disarang lebah, jumlah mereka ratusan yang mengerumuniku. Kuterjatuh ketanah; tubuhku sakit dan keluh, dalam dan luar. Berat bagiku menjalani penderitaan jasmani dan emosi, dengan perlakuan kasar. Tak pernah kurasakan ketidakadilan atau kesalahan. Saya mendengar suaraku, bukan suara seseorang atau Allah, itulah suaraku, tetapi saya tidak berbicara. Mungkin mengigau, saya tak tahu, tetapi saya mendengarnya, "Berdoalah pada Allah!" Saya berpikir, "Saya tidak percaya pada Allah." Saya berpikir, "jika saya berdoa, Saya tak tahu bagaimana harus berdoa lagi."
Pada saat itu, Saya tak pernah berdoa selama 23 tahun. Ketika saat kecil, kami berdoa di Sekolah Minggu atau Gereja. Saya berusaha mengingatnya. Untukku, berdoa adalah membaca dengan nada tinggi sesuatu yang dipelajari. "Tuhanlah Gembalaku, berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya, negaraku kepunyaan-Mu. Sebentar, itu bukan doa. Ya sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, 87 tahun silam nenek moyang kami" kucampur aduk, dan tak dapat ingat bagaimana berdoa. Setiap kali menyebutkan Allah, seperti melemparkan air panas. Mereka seperti kerasukan, berteriak dan menjerit. Mereka akan menggunakan kata-kata kotor yang pernah saya dengar didunia ini. Mereka tak dapat mengelilingiku yang membicarakan tentang Allah. Mereka terlihat sangat menderita mendengar Nama Allah dan membuat mereka mulai mundur. Jadi saya berkesimpulan bahwa saya dapat membuat mereka mundur dengan berbicara mengenai Allah.

Saya mencoba mengingat doa-doa, tetapi saya bingung dan bercampur aduk. Akhirnya kutahu bahwa mereka telah pergi dan saya sendirian. Selamanya, maksudku adalah saya tidak mengetahui waktu saat itu. Namun berpikir tentang hidupku, apa yang telah ku perbuat, dan yang tidak kuperbuat. Berpikir tentang situasi yang baru saja kualami. Kesimpulan yang kudapati adalah, seluruh hidup kedewasaanku adalah untuk ku, dan allahku ialah diriku sendiri. Kusadari ada yang sangat salah dalam hidupku, dan mereka yang menyerangku adalah yang sama sepertiku. Bukan monster, atau iblis; namun mereka yang kehilangan. Alasan hidup didunia ini, telah hilang, mereka hidup bagi dirinya dan keburukan. Dan sekarang saya ada didunia dimana tak ada apapun; yang ada hanya kepentingan diri sendiri dan keburukan. Mereka bertengkar seorang akan yang lain selamanya terus diantara mereka, tanpa akhir. Dan sekarang saya bagian dari hal yang demikian. Walau tak mau berada disana, terlihat seperti tempat yang tepat bagiku. Saya layak ditempat ini, karena seperti beginilah hidup saya. Anda tak dapat membayangkan penderitaan itu. Saya berbaring disana dari waktu tanpa batas, memikirkan nasibku. Timbul dikepala gambaran saya sewaktu kecil, duduk di sekolah minggu, menyanyi Yesus Kasih padaku. "Yesus Kasih padaku, la la la, Yesus Kasih padaku, la la la."

Saya dapat mendengar sewaktu kecil menyanyikannya. Lebih utama dari semua saya dapat merasakannya dalam hatiku. Sewaktu saya muda dan tidak mengetahui apapun saya percaya pada sesuatu yang baik, Saya percaya pada seseorang lebih daripadaku. Saya percaya pada seseorang yang seluruhnya baik, sangat berkuasa, yang perduli padaku, dan saya menginginkannya kembali. Itulah yang telah hilang, Saya telah membuangnya, Saya menyangkal, Saya ingin hal itu kembali. Saya tak tahu Yesus, tetapi saya mau mengetahui Yesus. Saya tak tahu Kasih-Nya, tetapi saya mau mengetahui Kasih-Nya. Saya tak tahu jika IA nyata, tetapi saya mau Dia nyata. Ada sesuatu yang saya percaya dalam hidupku, dan saya mau kepercayaan itu benar. Jadi saya berseru dalam kegelapan, "Yesus, selamatkanlah saya!" dan Dia datang.

Awalnya suatu cahaya kecil dalam kegelapan,dan sangat cepat bersinar. Cahaya itu sangat besar dan bersinar sehingga kalau secara fisik didunia maka saya pasti terbakar. Atau saya digoreng. Tetapi tidak panas atau berbahaya. Dia berada dalam cahaya dan mengulurkan tangan-Nya dan dengan lembut mengangkatku. Dalam cahayaNya dapat kulihat bahwa saya tak berkemuliaan, kotor dan terluka. Saya terlihat seperti sesuatu yang tertabrak dijalan. Dengan kelemah-lembutan Dia meletakan tangan-Nya dan mengangkatku. Sementara Dia menjamahku, seluruh luka,sakit dan kecemaran hilang. Seperti menguap hilang, saya sembuh dan sempurna. Didalamku, hanya diisi dengan KasihNya. Saya berharap dapat menerangkan. Sangat frustrasi tak dapat menerangkan karena hal itu yang paling terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, itulah segalanya. SEGALANYA dalam hidup adalah mengetahui Kasih itu, dan saya tak dapat menerangkan nya pada anda.

Dia memegangku, memelukku, memijat belakangku, seperti seorang ayah melakukan pada anaknya, seperti seorang ibu pada anak perempuannya, sangat lembut memijat belakangku. Saya bersukacita seperti seorang bayi dalam kegembiraan; yang terhilang dan didapat kembali, mati dan sekarang dihidupkan kembali. Dia membawaku keluar dari sana, dan kami terbang keluar. Kami bergerak kearah terang dunia, dan saya mulai menjadi sangat malu. Saya sudah sangat jahat, Saya hanyalah kotoran, sampah dan penuh cemar. Saya berpikir, "Dia melakukan kesalahan, Saya bukan kepunyaan disini, Dia tak ingin aku disini." Bagaimana mungkin IA perduli padaku, mengapa saya, Saya ini jahat. Kami berhenti, bukan dineraka, bukan diSurga, kami dipersimpangan. Dia berkata, "Kami tidak lakukan kesalahan, kau kepunyaan disini." Kami berbicara, Dia katakan banyak hal padaku. Dia membawa malaikat yang memulai hidupku dari awal hingga akhir.

Mereka tunjukan apa yang telah kulakukan yang baik dan salah. Dan terlihat sederhana. Saat mengasihi, memikirkan orang lain, malaikat senang, Yesus senang, dan Mereka katakan bahwa Allah senang. Saat mementingkan diri sendiri dan manipulasi tidak menyenangkan malaikat, tidak menyenangkan Yesus, dan mereka memberitahukanku bahwa Allah-pun tidak senang. Yang hendak disampaikan, dalam bingkisan, yaitu bahwa seluruh existensiku hidupku adalah Mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. sebab itulah saya diciptakan, sebab itulah saya didunia ini untuk melakukannya dan belajar. Tetapi saya gagal. Mereka mengatakan saya perlu kembali kedunia, saya menjadi sangat kecewa sebab saya mau ke Surga. Mereka katakan bahwa Surga tempat yang penuh sukacita, sangat menarik, dan tempat terindah. Semua orang akan mau pergi ke Surga dan saya pun mau. Mereka katakan bahwa saya TIDAK siap, bahwa saya tidak sempurna, belum waktunya bagi saya pergi ke Surga. Waktu bagi saya kembali kedunia dan berusaha hidup sebagaimana yang Allah inginkan, maksud Allah menciptakanku dalam hidup ini.

Saya katakan pada Yesus dan malaikat bahwa saya tak dapat hidup didunia tanpa mereka. Saya katakan bahwa hatiku akan hancur jika mereka mengirimku kembali kedunia. Mereka disana dan aku disini. Mereka katakan,"belum pahamkah? mengapa, Kami menunjukan semua ini?. Kami selalu berada disana, bersamamu sepanjang waktu. Dan kau tak pernah sendirian disana." Saya berkata "Kau harus memberitahu sesekali bahwa kau ada." Mereka katakan jika berdoa mengaku dosa pada Allah, berserah pada-Nya, berarti memberikan kekuatiran, kepedulian, harapan, dan impianku, berserah pada-Nya, maka hatiku akan merasakan kehadiran mereka. Tak melihat mereka, namun akan merasakan Kasih sebagaimana yang telah ku rasakan. Saya berkata jika mereka dapat pastikan saat saya dapat merasakan Kasih, maka saya akan hidup didunia ini. Mereka berkata bahwa mereka akan melakukannya, lalu aku dikirim kembali. Setelah pengalaman itu, suster yang mengatakan mereka tak menemukan Dokter, berlari kekamar dan berkata bahwa Dokternya baru tiba di RS. seperti suatu keajaiban karena saat itu sekitar pukul 9 atau 9:30 malam. Dia berkata "Dokter telah tiba dan kami akan melakukan operasi pada anda segera." Dan beberapa orang datang dan menyuruh isteriku keluar. Sangat menggangguku karena saya mencoba mengatakan pada mereka bahwa saya mau memberitahu kan apa yang telah terjadi denganku. Jadi sewaktu saya melewati isteriku di Koridor ke ruang operasi, Saya katakan semua akan membaik. Dan dia hanya terlihat ... seperti sekarat. Aneh, hal ini terjadi dan ingatanku masih utuh. Sungguh saya pingsan namun tidak tetap pingsan.

Saya percaya salah satu alasan Allah memberikan pengalaman ini supaya saya dapat membagi dengan orang lain. Tak tahu siapa dan tak pernah tahu kepada siapa. Tetapi saya tahu bahwa akan ada kesempatan membagi pengalaman ini dengan orang lain agar dapat menolong mereka.

Yohanes 11:25 - Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Tidak ada komentar: