Translate

Minggu, 05 Juni 2016

TENTANG AGAMA O




Waspadai Oprah Winfrey
Sosoknya sangat persuasif, berpengaruh, dan terlihat begitu baik. Tetapi sebagai orang Kristen, sebaiknya Anda waspada, tatkala wanita yang bernama Oprah Winfrey ini mulai menyinggung tentang spiritualisme, demikian apologis Josh McDowell dan Dave Sterrett, seorang apologis.

Berbicara di hadapan lebih dari 1.500 orang yang memadati McLean Bible Church di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (22/1), kedua apologis tersebut memaparkan bahaya mengadopsi ajaran spiritual Oprah Winfrey, dari sudut pandang kekristenan.

McDowell dan Sterret, yang juga baru-baru ini melansir buku dengan subyek yang sama, menjelaskan bahwa ratu talk show dan beberapa guru spiritual yang kerap muncul dalam acaranya, sesungguhhnya mengajarkan panteisme—ajaran bahwa Tuhan adalah semua dan semua adalah Tuhan—, dan bahwa ada banyak jalan untuk mencapai Tuhan. Menurut mereka, Oprah juga menekankan bahwa orang-orang harus melakukan keinginan batin mereka, alih-alih tidak melakukannya jika itu ternyata bertentangan dengan firman Tuhan.

“Ini yang harus Anda waspadai,” ujar McDowell, penulis buku laris “More Than a Carpenter. “Sebetulnya tidak hanya Oprah, tapi banyak penganut kepercayaan lain yang menggunakan termonologi religius yang diterima oleh orang Kristen.

“Allah dari umar Kristen adalah Tuhan pencipta alam semesta; sumber dari kebenaran yang ada di luar kita mau pun di luar jagad ini.

“Sementara Oprah dan yang lainnya merujuk Tuhan sebagai kekuatan pribadi di mana mereka memiliki jargon: ‘Lihatlah ke dalam diri Anda, dan temukan kekuatan di dalamnya. Carilah kesadaran ilahi, itulahTuhan.’”

Dalam buku mereka yang bertajuk “O God: A Dialogue on Truth and Oprah’s Sprituality”, keduanya mengingatkan bahwa Oprah “menggunakan ungkapan Alkitab dan tradisi kekristenan” tapi kemudian mencampurkannya dengan tradisi lain untuk “menciptakan iman yang campur-aduk.”

Itu terbukti saat Oprah menggelar seminar internet “Bumi Baru’ di tahun 2008, yang mengatakan bahwa Kristus hadir di dunia untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka dapat menemukan “kesadaran Kristus” milik mereka sendiri.

Menurut McDowell, sebagaimana diberitakan Christian Today, kesadaran dari dalam diri merupakan sesuatu yang berbahaya, lantaran orang-orang akan lebih mengikuti apa yang mereka rasakan ketimban Kebenaran yang sejati.

McDowell meingat salah satu eposide Oprah Winfrey Show di tahun 2009, di mana ia menampilkan seorang mantan penginjil terkemuka, Ted Hagard, yang pernah terlibat dalam hubungan sejenis dan skandal obat-obatan, bersama istrinya, Gayle. Kata Gayle, suaminya telah berjuang dengan kecenderungan homoseksualitas sejak usia 12 tahun, dan Ted telah berjuang keras untuk melawan dan mengalahkan kecenderungannya itu.

Oprah lalu bereaksi, sambil berdiri ia mengatakan bahwa ia tidak setuju melainkan setiap orang harus melihat ke dalam dirinya dan bertindak berdasarkan apa yang mereka rasakan.

“Tapi, tunggu dulu,” imbuh McDowell. “Bagaimana jika orang tersebut adalah penyiksa anak-anak? Apakah Oprah akan menyatakan hal yang sama? Bukankah ia harus konsisten dengan pernyataannya? Lalu, bagaimana jika orang tersebut adalah pemerkosa? Mau tak mau Oprah harus mengatakan hal yang sama.”

Oleh sebab itu, McDowell dan Sterrett sepakat bahwa Oprah tidak bisa menunjukkan konsistensi dalam apa yang ia percayai.

Dalam kesempatan yang sama, mereka juga membahas mengenai pandangan Oprah dan lainnya mengenai pluralisme religius—di mana mereka mengatakan bahwa pelbagai agama, walau sering bertentangan, semuanya adalah benar—yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa mentolerir orang-orang yang menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan. Seharusnya, menurut mereka, jika Oprah dan kawan-kawannya sungguh-sungguh menjunjung keberagaman, mereka harus bisa mentoleransi orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

“Alkitab tidak mengajarkan saya untuk menjadi orang yang toleran,” tegas McDowell. “Saya menolak untuk menjadi toleran karena itu berarti merendahkan orang-orang. Saya tidak dipanggil untuk menjadi toleran; saya dipanggil untuk mengasihi. Saya tidak tidak dipanggil untuk mentoleransi orang-orang; tetapi untuk mengasihi mereka.

“Jika Anda mentoleransi seseorang, itu sama dengan merendahkan mereka,” lanjut McDowell. “Jika Anda mengasihi seseorang, itu berarti Anda merancangkan sebuah nilai, martabat, dan harga diri dari orang tersebut. Sebagai orang Kristen kita tidak dipanggil hanya untuk mengasihi sesama, tetapi juga mereka yang terhilang.”

Apa yang disampaikan oleh McDowell diamini oleh Denise Wingerd, 30 tahun.

“Saya setuju bahwa orang Kristen seharusnya tidak menjadi orang yang toleran.” Ujar Wingerd yang juga berjemaat di Reston Bible Churcb. “Standardisasi kekristenan adalah untuk mengasihi—termasuk mengasihi mereka yang menganiaya kita. Itu melebihi arti toleransi.”

Wingerd mengaku ia kerap menyaksikan tayangan Oprah Winfrey Show hingga ia mendapatkan “pencerahan” dan memutuskan untuk berhenti. Ya, dalam salah satu episode, Oprah memberikan ucapan selamat terhadap tamunya yang baru saja bercerai dan meninggalkan keluarganya. Saat itu, Oprah menyatakan bahwa ini merupakan waktu perayaan.

“Aku berkata kepada diriku, wanita ini tidak layak mendapat perhatianku,” kenang Wingerd.

Sementara Melanie McFarland, 29 tahun, anggota dari McLean Bible Church, mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak bisa dirasionalisasikan begitu saja.

“McDowell telah membuka mataku,” kata McFarland. “Aku memang tidak menyaksikan Oprah, tapi aku heran bagaimana orang-orang menelan begitu saja setiap ucapannya tanpa melihat pada kebenaran.”

Agama O : Agama Baru yang didirikan Oprah Winfrey




Siapa yang tak kenal Oprah Winfrey. Pembawa acara Oprah Show itu memang terkenal dengan kecakapannya dalam memotivasi publik dengan acara-acaranya yang selalu menginspirasi. Pada 6 April 2010, Oprah mendirikan agama baru yang disebutnya Agama O. Dideklarasikan di Chicago, Amerika Serikat, Oprah memosisikan dirinya sebagai pendiri sekaligus pemimpin agama O.

Gayle King --editor O, The Oprah Magazine, yang menjadi Uskup Agung sekaligus pembicara agama ini, menyatakan inilah agama baru yang sangat diharapkan orang, sejak Scientology.

 Gayle King 

Menurut Gayle dalam seremoni pembukaan agama tersebut, agama ajakan Oprah ini begitu menggoda banyak orang karena menghilangkan banyak aturan dan larangan dalam agama konvensional yang sudah ada. "Sekarang, Anda dapat melakukan hal yang sama, dan tanpa ada ancaman kutukan abadi," kata Gayle, yang juga merupakan sahabat Oprah.

Gayle melanjutkan, agama Oprah memiliki semua kenyamanan yang ada pada sebuah sistem kepercayaan tradisional, tapi lebih dikombinasikan dengan semangat kehidupan Oprah, sehingga siapa pun akan merasa nyaman ketika mereka berpindah ke tradisi baru O. Misalnya saja, tradisi Katolik seperti pengakuan dosa telah dimasukkan ke dalam O. Namun dengan modifikasi: cukup dilakukan sekali seumur hidup.

Setelah mengucapkan kata pengantarnya, Gayle kemudian merentangkan tangannya ke langit, dan Oprah muncul dari atas, terbalut jubah putih menyilaukan dan sepasang sepatu bot kulit hitam setinggi lutut dengan tumit stiletto. Kerumunan campuran perempuan pra dan pasca-menopause histeris, menangis, seperti melihat visi surgawi.



Sejak Oprah sebagai pemimpin tertinggi dan sekaligus sebagai kepanjangan tangan Tuhan, penebusan dosa tidak perlu, dan pengampunan dijamin, tanpa harus ada campur tangan orang lain. Meskipun Oprah meresmikan sendiri pembukaan pertama Gereja Oprah Juru Selamat, yang terletak di Chicago Magnificent Mile, namun agama Oprah tidak mensyaratkan bangunan gereja.

Sebaliknya, "Berbahagialah gerejaku, masukkan kalian sekarang dan lihatlah pelayanan saya di televisi panel layar datar raksasa Sony di dalam!" Oprah berseru. Kemudian ia melanjutkan, "Lihatlah dalam diri Anda, agar Anda dapat mengatasi semua rintangan jika Anda percaya pada diri sendiri! Lihat juga di dalam kantong hadiah Anda, karena Anda semua mendapatkan sertifikat untuk sebuah televisi Sony gratis! "

Jemaat

Saat ini, Oprahnisme menjadi agama resmi di Kanada, Jepang dan Selandia Baru. Kentalnya pengaruh New Age, nampak dari doktrin awal yang didengungkan Oprah.


OPRAH

Gereja Oprah ini semakin mengibarkan sayapnya yang kokoh. Namun Gereja Katolik menolak jika Gereja Oprah sebagai sebuah agama. Pengikut Oprah ini menunjukkan perlawanan kepada agama yang menolak.

Orang paling berperan terhadap tumbuhnya spiritualitas New Age pada Oprah:


 Eckhart Tolle

Eckhart Tolle, 63 tahun adalah seorang penulis dan pembicara. Dia adalah penulis buku bestseller, The Power of Now dan A New Earth. Pada 2011, dia dinobatkan sebagai orang yang paling berpengaruh secara spiritual di dunia oleh Watkins Review.

Tolle berkali-kali diundang dalam acara Oprah, baik di televisi, seminar, juga dalam web. Bagi Oprah, buku ini adalah panduan untuk orang-orang yang sedang mencari jati diri yang sebenarnya, dengan metode-metode dan cara yang spesifik. Berkonsep pada New Age Movement, pencarian jati diri yang berlebihan itulah yang membuat orang mendewakan dirinya sendiri.

Seperti para pencari jati diri dengan metode dari Tolle ini, sama halnya yang terjadi pada Oprah. Dia mulai mengaggungkan dirinya dan meyakini konsep spiritual yang dianutnya, New Age. Tentu saja, berbekal kemampuan public speaking yang luar biasa, dia bisa mempunyai pengikut yang jumlahnya besar.


Tentang New Age
New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru tidak seperti agama formal kebanyakan. “Agama” ini tidak memiliki teks suci, organisasi pusat, keanggotaan, pendeta formal, pusat geografis, dogma, kepercayaan, dan lain sebagainya. Mereka sering menggunakan definisi eksklusif untuk beberapa istilah mereka.

New Age sebenarnya gerakan spiritual yang mengalir bebas, sebuah jaringan orang-orang percaya dan praktisi yang memiliki keyakinan agak mirip dan praktis, yang mereka tambahkan ke dalam agama formal yang mereka ikuti. Mereka menjadikan seminar, konvensi, buku, dan kelompok informal sebagai khotbah dan agama mereka.

Filosofi New age adalah filsafat yang berpusat pada diri manusia. Gerakan Zaman Baru mengajarkan bahwa manusia adalah "allah".

Tidak ada komentar: